YUK, CEK UP KESEHATAN KEUANGAN

source: EHshumfinancial.com

🙂 pic source: EHshumfinancial

 

Menjelang akhir tahun ini, saatnya kita mengevaluasi kondisi kesehatan kita, tidak hanya kesehatan badan kita tapi juga kesehatan dompet kita. Mungkin saja selama setahun terakhir ini banyak penambahan pengeluaran yang mungkin kita tidak sadar sudah di luar budget kita (sounds familiar ya..), atau malah penambahan pendapatan, tiba-tiba kita ketiban rejeki (yang ini bisa terjadi, tapi jaraaaang 🙂 .

Pernahkah anda mengajukan pertanyaan pada diri anda sendiri?

Apakah investasi yang kita lakukan sudah maksimal dengan kemampuan keuangan kita?

Apakah rasio hutang kita sudah melewati batas ambang kesehatan keuangan kita?

Apakah asuransi yang kita miliki sudah memadai? Cukupkah uang pertanggungan nya meng cover kita sebagai breadwinner jika terjadi apa-apa dengan kita?

Berapa total networth aset yang kita miliki?

Apakah cash flow keuangan keluarga saya sudah sehat, atau masih negatif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti di atas, bisa kita jawab dengan mengetahui seberapa besar tingkat kesehatan keuangan kita.

Sebagai bentuk kepedulian sosial kami sebagai financial planner, kami memberikan financial check up gratis sampai 31 Desember 2016, kirimkan email anda ke rizal.plannerindo@gmail.com dengan subject: Free Financial Check Up.

Terms and condition apply.

 

catch me: @rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Bagaimana Mewujudkan Naik Haji Lebih Cepat?

Haji di Mekah

 

“…bersamaan dengan keberangkatan kami ke Tanah Suci, mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan kesalahan kami.., kami berencana akan berangkat menunaikan ibadah haji …..dst. kira-kira itu ucapan dari kerabat dan sahabat yang akan naik haji tahun ini.

Siapa sih umat muslim yang gak pengen naik haji… mulai dari tukang becak sampai presiden atau raja di dunia ini pasti punya keinginan untuk naik haji, karena itu seperti ‘mimpi’ umat muslim untuk bertamu ke rumah Tuhan nya, naik haji (bagi yang mampu) juga merupakan tujuan untuk melengkapi rukun Islam. Memang tidak murah naik haji, dengan asumsi biaya tahun ini sekitar Rp. 34.641.340 juta atau setara USD 2.585 dengan asumsi nilai tukar Rp. 13.400/USD.  Ongkos haji sesuai ketetapan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2016. Atau bila menggunakan ONH Plus biaya nya sekitar USD 12.000 per orang atau kurang lebih Rp. 160 juta per orang atau 4,6 kali dari ONH regular.

Untuk ONH Reguler, daftar tunggu saat ini sudah mencapai 40 tahun di daerah, jadi kalau kita daftar umur 35 tahun, maka baru bisa berangkat waktu sudah jadi kakek nenek umur 75 tahun, itu juga dengan catatan kalau kita sampai umur segitu. Sementara kalau untuk mendapat nomer pendaftaran kita harus menabung dulu sampai terkumpul Rp. 25 juta, baru kemudian melunasi sisanya. Bisa dibayangkan bila ternyata 40 tahun kemudian ongkos haji naik menjadi Rp. 180 juta, maka sisanya harus kita lunasi untuk bisa pergi haji, sementara uang yang Rp. 25 juta itu mengendap tanpa hasil.

Kalau mau pergi cepat dari negara lain seperti Filipina, urusan nya bisa repot, kena deportasi sampai ancaman kehilangan kewarganegaraan.

Oleh karena itu pilihan paling logis dari sisi waktu, adalah dengan ikut ONH Plus, meskipun lebih mahal, tapi dari sisi waktu, umur calon haji dan rentang waktu tidak terlalu jauh, karena waktu tunggu ONH Plus jauh lebih cepat dari ONH Reguler (saat ini kurang lebih 7-8 tahun).

Asumsikan ongkos naik haji USD 12.000 atau IDR 160 juta, bila kita menggunakan tabungan syariah Rupiah, dengan bagi hasil nya kurang lebih 2%, maka akan butuh waktu yang lama dan dana yang lebih besar untuk mewujudkan naik haji kita, tapi…. bila kita menggunakan instrumen reksadana syariah, maka waktu dan nominal dapat lebih cepat dan lebih murah.

Ilustrasi dengan instrumen reksadana syariah Rupiah- bisa dilihat tabel di bawah ini:

Type Cicilan per bulan selama 3 tahun Cicilan per bulan selama 4 tahun Cicilan per bulan selama 5 tahun
ONH

Plus Rp. 160.000.000

Rp. 3.38 juta Rp. 2,30 juta Rp. 1,67 juta

Asumsi kurs: Rp. 13.400/USD

 

 

Bila kita menggunakan reksadana Dollar, maka ilustrasinya sbb:

Type Cicilan per bulan selama 3 tahun Cicilan per bulan selama 4 tahun Cicilan per bulan selama 5 tahun
ONH

Plus

USD 12000

USD 300 USD 217 USD 168

 

Angka nya ternyata mirip-mirip ya, hanya saja risiko fluktuasi nilai tukar akan lebih kecil bila kita gunakan instrumen dolar juga, karena tujuan akhir ongkos haji dalam bentuk dolar (USD 12000).

Yuk luruskan niat untuk kita bisa berangkat haji…!

 

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

 

Asuransi Pendidikan, tepatkah untuk sang buah hati?

asuransi pendidikan

Sebagai orang tua pasti kita ingin yang terbaik untuk pendidikan anak-anak kita, pingin sekolah nya yang terbaik, mulai dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Selain menabung dan investasi, ada orang tua yang membeli produk asuransi pendidikan untuk anak-anaknya.

Sekarang, banyak penawaran asuransi pendidikan, yang notabene sekarang adalah produk unit link, produk yang sangat canggih dan sophisticated. Anda beli produk ini, kalau anda sudah punya produk proteksi yang memadai dan juga investasi yang trengginas (eeh.., betul kan bahasa indonesianya). Mengapa? Karena produk unit link adalah produk proteksi sekaligus investasi, produk yang dikemas canggih sedemikian rupa sehingga produk ini bisa memberikan perlindungan asuransi sekaligus memberikan return atas investasi yang dilakukan.

Namun, karena canggihnya produk ini, banyak dari nasabah yang kurang paham dan kurang mengerti bagaimana mekanisme nya, berikut hal-hal penting yang wajib anda ketahui mengenai asuransi pendidikan:

  1. Nilai tunai berkurang dalam periode awal, kalau misalnya di awal anda membayar premi Rp. X juta, maka dalam beberapa tahun pertama, nilai tunai anda akan berkurang. Ini namanya biaya akuisisi. Ilustrasinya begini, misalnya uang premi yang disetor Rp. 100 juta, ternyata dalam laporan tahunan sudah terpotong Rp. 10 juta, otomatis nilai tunai nya tersisa Rp. 90 juta. Nilai Rp. 10 juta tersebut adalah biaya akuisisi, artinya kurang lebih biaya yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi untuk komisi agen, biaya marketing, yang diambil dari setoran premi nasabah. Biaya ini akan terus ada sampai periode tertentu. Dan bukan tidak mungkin laporan berikutnya nominal uang anda akan berkurang lagi.
  1. Waiver premium, kurang lebih artinya, premi akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, bila terjadi ketidakmampuan dari pihak yang membayarkan premi, sampai si anak mencapai usia sekolah/kuliah. Logikanya, buat apa dilanjutin bayar premi sampai anak mencapai usia sekolah/kuliah? Wong dibutuhin saat itu juga, saat si bapak udah ga ada lagi. Siapa yang akan bayarin sekolah si anak sekarang sampai usia sekolah/kuliah nanti? Emang nya si anak udah bisa otomatis cari duit sendiri saat si bapak ga ada sampai mencapai usia sekolah/kuliah nanti? Yang di asuransikan seharusnya adalah yang membayarkan premi, biasanya sih breadwinner alias pencari nafkah alias bapaknya BUKAN si anak sebagai penerima manfaat asuransi. Kalau ada apa-apa dengan bapaknya, maka otomatis anak akan ter-cover, bukan sebaliknya, kalau ada apa-apa dengan si anak, maka Bapaknya yang mendapatkan manfaatnya, ini kan salah kaprah.
  1. Asuransi sebagai proteksi, yang kita cari adalah untuk proteksi, sedangkan asuransi pendidikan unit link menawarkan proteksi sekaligus investasi, yang berakibat pada performance investasi dari nilai unit link itu sendiri yang tidak setinggi investasi murni. Ilustrasinya begini, misalnya Asuransi Unit Link dengan underlying asset yang sama (portfolio asset dasar yang sama) untuk Reksadana investasi murni, maka akan terlihat perbedaan yang nyata, jika pada reksadana bisa memberikan return hingga 12% p.a. (misalnya), maka return investasi di unit link biasanya lebih rendah dari 12% p.a.
  1. Perbedaan harga beli dan jual di asuransi unit link (di perusahaan asuransi tertentu), kalau diperhatikan di surat kabar, terdapat 2 kolom, jual dan beli, maka selisihnya kurang lebih sebesar 5 %. Ini adalah margin bagi perusahaan asuransi, sedangkan pada reksadana harga NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang dipublikasikan hanya closing price kolom saja, artinya harga jual dan beli unit Reksadana tersebut pada harga yang sama.

Kesimpulannya, dari 4 poin di atas, menurut saya, bisa dinilai bahwa asuransi pendidikan unit link kurang tepat sebagai proteksi sekaligus investasi untuk buah hati anda.

Oleh karena itu tetapkan tujuan dan kebutuhan anda, cermatlah dalam membeli asuransi, lebih baik bawel kepada agen asuransi daripada menyesal kemudian. Kalau masih kurang jelas, tanyakan pada financial planner anda.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

Take Over = Hemat Waktu Cicilan

KPR take over

Ket: salah satu contoh iklan KPR Take Over dari salah satu bank swasta di Indonesia.

 

Kalau anda punya hutang rumah di bank dan suatu saat anda menjerit melihat tagihan rutin KPR (Kredit Pemilikan Rumah) anda naik, maka bisa dipastikan bunga KPR anda naik! Dan bunga ini bisa naik setiap 6 bulanan, sementara turunnya susah banget. Siapa sih yang gak senewen melihat tagihan yang naik? Sementara harga barang-barang kebutuhan juga terus naik.

Bank mengenakan floating rate, artinya suku bunga bank mengikuti pasar. Kalau patokan tingkat bunga naik, maka yang paling cepet naik adalah bunga kredit, sementara bunga tabungan & deposito paling lambat mengikuti kenaikan, dan begitu juga kalau patokan tingkat bunga turun. Kenapa? Karena bunga kredit adalah sumber pendapatan bank, sementara bunga tabungan dan deposito adalah kewajiban bank terhadap nasabah. Sebagai catatan BI rate per Kamis 14 Januari 2015 lalu turun dari 7.50% menjadi 7.25%.

Kalau ada penawaran KPR dengan bunga fixed rate 3 tahun dari suatu bank, maka ini bisa jadi salah satu solusi penghematan untuk anda dengan memindahkannya (take over). Ilustrasinya begini, kalau misalnya asumsi bunga floating rate bank saat ini 13,5% dan penawaran fixed rate 8.5%, maka dengan take over KPR, penghematan anda sebesar 5%, luar biasa kan? Ternyata penurunan rate 5% ini, jika dihitung dengan nilai cicilan yang sama, maka anda akan berhemat 2,5 tahun.

Tentu saja ada biaya-biaya KPR untuk take over (KPR yang di alihkan ke bank lain). Namun biaya ini hanya sekitar 5% dari total tagihan KPR, sementara penghematan total pokok dan bunga kurang lebih 30% dari nilai tagihan. Artinya anda berhemat 25% kan.

Ilustrasi tabel di bawah bisa menggambarkan kondisi ilustrasi di atas:

  Sebelum

Take Over

Sesudah

Take Over

 
  Rate KPR: 13.5% Rate KPR: 8.5% Selisih
Tingkat Bunga KPR

13.50%

8.50%

5.00%

Cicilan per bulan (Rp.)

         7,600,000

               7,600,000                        –
Jangka Waktu (tahun)                            10

7.5

2.5

Sisa Tagihan (Outstanding) (Rp.)

         500,000,000

                 500,000,000

0
Bunga+Pokok selama 36 bulan (Rp.)

         601,776,000

                 455,375,000

   146,401,000
Biaya take over (Rp.)  

                   17,060,000

 

 

Dari tabel di atas asumsikan nilai sisa tagihan (outstanding) sebesar Rp. 500.000.000, terlihat bahwa dengan nominal cicilan sebelum dan sesudah KPR take over mempunyai nominal yang sama Rp. 7.600.000, jangka waktu cicilan hemat 2,5 tahun menjadi 7,5 tahun. Selama 36 bulan pertama, selama masa fixed rate berlaku, anda juga berhemat untuk Bunga dan Pokok cicilan sebesar Rp. 146.401.000. Nilai penghematan Bunga dan Pokok ini setara dengan 30% dari nilai tagihan (outstanding). Sedangkan biaya take over sebesar Rp. 17.060.000 setara dengan 5% dari nilai tagihan (outstanding). Jika di net off, anda berhemat 25%.

Memang ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk take over, tapi jika anda sudah pernah disetujui untuk KPR, maka untuk take over kurang lebih syarat yang sama yang diperlukan.

Selanjutnya, jika sudah 3 tahun, dimana masa fixed rate sudah selesai, maka bunga akan kembali mengikuti pasar, pindahkan saja lagi KPR anda ke bank lain yang menawarkan fixed rate yang lebih rendah untuk jangka waktu tertentu.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

CASH IS KING

source: poluscapital.com

pic source: poluscapital.com

Hari ini Indeks bursa saham di Indonesia sempat jatuh ke 4100, Rupiah sudah menyentuh ke Rp.14000 per 1 Dolar Amerika (bahkan ada yang sudah meramal bahwa akan menyentuh Rp. 15000/1US$). Indeks Dow Jones juga merah membara turun -588.40 ke level 15000 (dari Indeks tertinggi sebelumnya 18000). Belum lagi hadirnya fenomena alam El Nino di Indonesia. Dampak dari Topan El Nino ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat wilayah Negara Republik Indonesia tercinta kita ini menjadi kering dan kemarau yang berkepanjangan. Konon hembusan angin El Nino ini juga mempengaruhi indeks bursa saham, terutama saham-saham yang terkait dengan produk pertanian.

Jika fenomena alam El Nino ditambah dengan kondisi babak belur bursa dan kurs Rupiah yang menguatirkan ini terus berlanjut sampai akhir tahun 2015, apakah kondisi krisis 1997-1998 bisa terulang kembali?

Indikator lainnya yang menunjukkan kondisi ekonomi global dan domestik lagi lesu bisa dilihat dari:

  • Ekspor turun -15,5% mom (atau -19,2% yoy) di bulan Juli 2015.
  • Impor juga turun lebih dalam lagi -22,4% mom (atau -28,4% yoy) di bulan Juli 2015
  • Penjualan semen yang menurun -10,2% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -6,2% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan mobil turun -39,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -25,7% yoy di bulan Juni 2015.
  • Penjualan motor turun -21,1% yoy di bulan Juli 2015 dibanding -23,5% yoy di bulan Juni 2015.

Keterangan:

mom = month on month, menunjukkan perbandingan dari bulan ke bulan, sementara yoy = year on year, menunjukkan perbandingan dari tahun ke tahun.

 

Poin pertama di atas menunjukkan ekonomi dunia yang lagi lesu, sementara poin kedua sampai kelima menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang lemah.

Dalam kondisi ekonomi seperti ini jaga kondisi likuiditas keuangan keluarga anda, karena likuiditas adalah raja, orang (kepepet) menjual aset karena butuh uang. CASH is KING!

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

New Coal Power Plant vs Health

source: wikipedia.org & smart-labex.fr

source: wikipedia.org & smart-labex.fr

human health

In recent news topic, the new minister RR challenge VP JK to debate on the issue of build an additional 35 Gig watts of new power plants, while 22 Gig watts of which would come from coal power plants.

Based on recent report on the research “The Human Cost of Coal” from Harvard University and Greenpeace Southeast Asia, reveals that Indonesia’s coal-fired power plants cause an estimated 7,100 premature deaths every year. The number would increase to 28,000 per year if Jokowi – JK government goes ahead with an ambitious rollout of more than one hundred new coal-fired power plants. According to the report, the cause of this would be the emissions from coal-fired power plants form particulate matter and ozone would endanger to human health. More common that would likely happen in community are heart attacks, lung cancer and other cardiovascular and respiratory diseases that would likely to cut human’s life. The focus would be the quality of air and health.

By this plan to come, I urge the importance of life and health insurance to protect you and your beloved family. Not just having this issue now, even though there is no such issue like this, you would need health insurance to cover you. Of course we wouldn’t expect to be ill and hospitalized, but one never knew. Insurance protect us from such unexpected and accidentally sickness which might happened to us in the future.

As a family, you would need to buy each of your family members a health insurance and the bread-winner also a life insurance. No need to buy your kids a life insurance, because we do not expect our kids to ‘go’ first before their parents, right? Well, the point of buying life insurance is to make sure our kids are covered enough if we, as the bread-winner, gone. Not vice-versa.

This issue of having new coal power plant, quality of air, human health are just point out lately, but the main point is to take care our family by having sufficient protection with insurance.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com