PENIPUAN INVESTASI

bitagtheoriginal

Heboh kasus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group di Depok awal tahun 2017 ini menambah panjang daftar investasi bodong yang ada di Indonesia. Alkisah KSP Pandawa Mandiri Group melakukan penghimpunan dana masyarakat dengan tawaran bunga yang sangat tinggi hingga 10% per bulan kepada investor. Sistemnya multilevel, seorang leader merekrut downline 4 (empat) orang dan 4 (empat) orang ini kemudian melakukan perekrutan lagi dan seterusnya. Selain itu mereka juga menyalurkan pinjaman kepada nasabah seperti kepada pedagang dengan bunga 15% per 3 bulan. Kasus ini mencuat setelah ada laporan dari masyarakat kepada pihak berwajib. Daan pihak OJK juga sebelumnya pada akhir tahun lalu telah turun tangan menghentikan kegiatan penghimpunan dana karena tidak sesuai dengan ijin yang di dapat.

Kalau kita rujuk ke belakang, sepertinya daftar penipuan investasi sudah sangat panjang seperti QSAR (Qurnia Subur Alam Raya) investasi di perkebunan, ADD Farm – ternak itik, Koperasi Langit Biru – agribisnis, Golden Traders Syariah Indonesia (GTIS) – beli emas 30% lebih tinggi dari harga pasar, Raihan Jewelry (RJ) – iming-iming investasi emas; yang terakhir muncul sebagai headline di harian Kontan (Rabu, 27 Februari 2012), dan masih banyak lagi listnya. Semua kasus di atas akhirnya harus berurusan dengan Polisi.

Banyak masyarakat kita yang karena mental ingin cepet kaya cari jalan tol buat hal ini, alih-alih untung malah jadi buntung, karena tergiur iming-iming untung yang bakal di dapat dibanding risiko yang akan muncul maka rasionalitas seolah-olah hilang. Penawaran investasi tersebut umumnya ditawarkan dengan bunga atau return (imbal hasil) nya sangat tinggi dan seolah-olah tidak ada risiko (risk free) plus iming-iming bonus dan cash back yang menggiurkan, apalagi kalau ada endorsement dari tokoh masyarakat! Kalau sudah begini something too good to be true, it’s hard to be true.

Tulisan ini untuk diri kita sendiri dalam memahami keputusan investasi yang kita pilih, agar kita cermat dan berhati-hati dalam berinvestasi, jangan tergiur dengan iming-iming bunga tinggi atau bagi hasil yang tinggi yang jauh melebihi kondisi pasar. Contohnya tawaran KSP Pandawa Mandiri yang menjanjikan memberikan bunga 10% per bulan, sementara kita tahu kondisi di perbankan bunga deposito bank saat ini 5%-6% per tahun. Artinya Pandawa menjanjikan memberikan bunga 120% per tahun, atau 20 – 24 kali dari bunga perbankan, angka yang sangat fantastis kan? Dari sini saja seharusnya sudah muncul pertanyaan, benar apa tidak?

Yang kedua yang perlu menjadi concern kita, adalah legalitas dari entitas tersebut. Apakah entitas tersebut mempunyai ijin dari otoritas yang berwenang? Dalam kasus KSP Pandawa, kegiatan menghimpun dana pihak ketiga tidak mendapat ijin dari OJK, karena di Indonesia yang berhak mengumpulkan dana pihak ketiga hanya Bank, dan KSP Pandawa tidak mendapat ijin untuk hal itu. Begitu juga untuk  perdagangan komoditas seperti emas, harus ada izin dari otoritas. Jika ingin lebih yakin, cek terlebih dahulu surat ijin usahanya ke otoritas berwenang, dan apakah benar izin usaha tersebut valid?

Yang ketiga, apakah underlying asset nya? Maksudnya dasar investasi nya pada aset apa saja?  Uang yang disetorkan diinvestasikan dimana? Kita perlu waspada dan teliti menanyakan hal ini, karena jika di investasikan di pasar modal, pasar uang, perdagangan komoditas semuanya bisa terlihat secara transparan dari laporan pasar yang ada dan kita sebagai calon investor bisa menilai imbal hasil yang wajar. Dalam kasus KSP Pandawa yang menjanjikan imbal hasil 10% per bulan, sangat patut ditanyakan, uangnya di investasikan pada instrumen apa? Apa saja portfolionya? Sudah berapa lama mengelola portfolio tersebut. Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus menjadi concern kita, agar uang kita tidak hilang.

Ke empat, knowledge dan capability, Apakah pemilik usaha atau pengelola dana tersebut mempunyai kapasitas yang memadai dalam mengelola dana. Apakah ia mempunyai pengetahuan yang cukup dalam mengelola investasi. Apakah ia memiliki lisence (surat ijin) yang diterbitkan oleh otoritas berwenang. Seperti di pasar modal dikenal adanya lisence MI (Manajer Investasi). Karena salah kelola dan tidak cukup kapasitasnya dalam mengelola portfolio yang ada, maka taruhannya selain nama baik juga secara hukum bisa dituntut, karena tidak berizin.

Secara nature, bahwa masih banyaknya orang yang tertipu investasi semacam ini karena faktor serakah (greed), ingin mendapatkan untung besar secara instan tapi tidak memperhitungkan resikonya.

Sepanjang tahun 2013-2016 kemarin, OJK menerima laporan dan pertanyaan masyarakat mengenai 484 entitas yang dicurigai melakukan investasi bodong.

Oleh karena itu marilah kita cermat dalam berinvestasi, jangan sampai penipuan investasi yang telah banyak makan korban menimpa diri anda. Waspadalah!

Catch me:@rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

FOKUS PADA SATU TUJUAN KEUANGAN

focus-on-your-dream

Dari sekian banyak perencanaan keuangan yang ingin dibuat dengan keterbatasan dana yang ada, mana yang lebih di dahulukan? Mana yang lebih penting? Apakah dana darurat, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana investasi atau dana proteksi?
Jawabannya: fokus satu saja dulu.
Hal pertama yang perlu anda lakukan adalah tetapkan dahulu tujuan keuangan anda. Jika sudah tahu arah tujuan anda, fokuslah untuk mengejar tujuan keuangan tersebut. Misalkan anda sebagai orang tua, ingin agar anak anda kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di dalam negeri dalam kurun waktu 6 tahun mendatang. Asumsikan pilihan anak tersebut adalah sekolah ekonomi dan bisnis yang paling top di Indonesia. Saat ini ada 2 (dua) jalur besar untuk masuk Universitas ternama tersebut, melalui jalur undangan atau melalui jalur ujian tertulis. Jika seandainya kemudian anak anda lulus dan masuk Universitas tersebut, maka biaya kuliahnya tentu mesti dipersiapkan. Dalam edaran resmi Universitas ternama itu, disebutkan bahwa untuk tahun ajaran 2016-2017 jurusan Sosial Humaniora (IPS), biaya kuliah per semester untuk kelas yang tertingginya adalah berkisar antara Rp. 16.500.000 s/d Rp. 17.500.000. Asumsi dibutuhkan 4 (empat) tahun atau 8 (delapan) semester untuk mendapatkan gelar sarjana, artinya total biaya kuliah Rp. 132.000.000 s/d Rp. 140.000.000. Biaya yang tercantum di luar biaya buku, fotocopy, transportasi, biaya hidup dan lainnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir naik turun, dari 3.79% di tahun 2011, naik menjadi 8,36% di tahun 2014, turun lagi 3,02% di tahun 2016. Asumsikan rata-rata inflasi selama 5 tahun terakhir adalah 6,3%. Bila kenaikan biaya kuliah linier dengan inflasi, maka tahap kedua adalah menghitung berapa biaya kuliah pada saat anak anda masuk kuliah. Dalam case ini, 6 (enam) tahun lagi untuk masuk jurusan pilihannya Sosial Humaniora tersebut, hitung punya hitung ternyata total biaya kuliah naik menjadi Rp. 191.000.000 s/d Rp. 202.000.000.
Jika sudah selesai menghitung proyeksi biaya kuliah tersebut, tahap selanjutnya adalah memilih instrumen apa yang tepat untuk dapat mewujudkan tujuan keuangan tersebut. Sedikit tips, pilihlah instrumen yang bisa mengalahkan inflasi alias si ‘perampok siluman’ tersebut. Jika rata-rata inflasi selama 5 tahun terakhir 6,3%, dan saat ini imbal hasil (return) deposito berkisar 6%-7% per tahun, dimana nett nya akan lebih kecil setelah di potong pajak 20%. Dus, deposito bukan merupakan pilihan yang tepat.
Dan yang terakhir adalah tahap paling penting: eksekusi! Eksekusi bisa dilakukan dalam 2 (dua) cara:
dengan cara mencicil (installment), secara berkala menempatkan dalam bentuk investasi, beli produk pasar modal seperti reksadana setiap bulannya, dan anda terus membeli reksadana tersebut selama kurun waktu proyeksi anak anda akan kuliah tersebut. Beli dengan metode dollar cost averaging, membeli produk dengan harga rata-rata. Jika bulan ini misalnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) dari reksadana 1200 dan bulan depan pada waktu kita beli naik menjadi 1300, maka secara-rata-rata harga unit reksadana yang anda beli NAB nya 1250. Dengan dollar cost averaging, anda tidak usah pusing soal kapan belinya, unit reksadana yang terbeli akan lebih banyak pada saat NAB rendah, dan akan lebih sedikit pada saat NAB naik. Karena tujuannya adalah mendapatkan harga rata-rata terendah dari investasi yang anda beli. Dalam case ini, lakukan ini terus setiap bulan selama 6 tahun. Yang kedua, dengan cara investasi lumpsum, asumsikan anda sudah mempunyai dana gede tapi belum memadai senilai total biaya kuliah masa yang akan datang, Misalnya anda sudah mempunyai dana Rp.87.400.000, dengan hanya sekali investasi pada instrumen yang dapat memberikan return 15% per tahun, maka biaya kuliah Rp. 202.000.000 akan terwujud.

Kalau anak anda lebih dari satu, maka bisa dilakukan cara yang sama dengan kurun waktu yang disesuaikan. Untuk memilih investasi apa yang akan dipilih, sektor finansial seperti pasar modal bisa menjadi pilihan, tapi ingat setiap pilihan investasi punya risikonya sendiri-sendiri.

Kalau satu tujuan keuangan sudah terkumpul, mulai lagi fokus dengan tujuan keuangan lainnya.
Kuncinya disiplin investasi dan monitor investasi anda.

TIPS INVESTASI ONLINE

pic source: ljitechnologies.com

pic source: ljitechnologies.com

Salah satu cara untuk meningkatkan kekayaan adalah melalui investasi. Yup investasi.., salah satu pilihan investasi adalah melalui reksadana. Kita bisa lebih cepat mengakumulasikan dana kita melalui reksadana. Tentu hal pertama yang perlu kita pastikan adalah tujuan kita untuk apa? Apakah untuk pendidikan anak? Untuk umroh? Travelling dsb? Sehingga jangka waktu investasinya pun disesuaikan dengan tujuan kita. Kalau sudah tahu tujuannya untuk apa dan berapa lama, maka besarannya pun bisa dihitung menyesuaikan tujuan dan jangka waktu.

Bagaimana menentukan pilihan investasi reksadana yang tepat? Secara gambaran besar dibagi 3 (tiga), kalau tujuannya untuk jangka waktu pendek, sekitar 1-2 tahun, penempatan dananya di pasar uang, untuk jangka waktu menengah 3-5 tahun, di fixed income (obligasi), sedangkan untuk jangka panjang 5-7 tahun, penempatannya di saham. Selain itu kita sebagai investor juga harus paham risiko yang ada, hampir tidak ada investasi yang tidak berisiko, karena deposito di bank pun tetap ada risikonya. Yang paling ekstrim adalah ‘hilangnya’ uang kita, ‘hilang’nya disini misalnya karena kondisi eksternal seperti pasar saham yang lagi anjlok atau bank yang di ‘rush’. Seperti kejadian tahun 1998 dimana terjadi kerusuhan politik di Jakarta, yang berdampak penjualan besar-besaran saham di pasar modal, sehingga dana yang di tempatkan di saham akan anjlok mengikuti underlying nya (acuan investasinya).

Selain itu kita, kita juga perlu tahu toleransi risiko kita, seberapa besar kita bisa mentolerir risiko atas investasi tersebut, misalnya seperti contoh kejadian di atas, kalau tiba-tiba kita kehilangan duit karena ada kejadian ekstrim, apakah kita sanggup menerimanya? Bisa repot kan kalau sampai kena stroke, tekanan darah tinggi atau stress. Bila kita tidak sanggup menerima high risk tersebut, maka pilihan kita bisa turun ke investasi yang portfolio yang lebih rendah risiko nya, otomatis lebih rendah juga return (tingkat pengembalian investasi) nya.

Saat ini cara investasi pun semakin mudah, sudah bisa dilakukan online, Investasi Reksa Dana Online DIM, Investasi aman dan mudah, kita bisa tahu kinerja masing-masing reksadana dan juga bisa membandingkan dengan pilihan yang ada. Investasi online diperkirakan akan meningkat, hal ini seiring dengan meningkatkan jumlah investor di Indonesia yang naik 104.88% dibandingkan dengan periode sebelumnya, menjadi 886.574 per 20 Desember 2016 (sumber: kompas.com).

Yang terakhir adalah disiplin kita berinvestasi, karena tanpa disiplin mustahil kita bisa mencapai dana yang kita impikan tersebut. Dengan investasi online, kita dimudahkan untuk memilih pemotongan /pendebetan langsung rekening kita untuk pembelian investasi tersebut. Caranya kurang lebih sama seperti kalau kita cicil rumah (KPR), bedanya kalau kita telat bayar cicilan rumah, akan ada yang datangin kita, telponin kita, sampai mengancam kita, tapi kalau kita telat taruh dana untuk investasi di rekening, tidak ada yang datengin atau telpon mengingatkan kita, yang kecewa adalah kita sendiri di ujungnya nanti.

Yuk mulai investasi…!

 

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.plannerindo@gmail.com

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog ‘Blogging Competition – Reksa Dana Online DIM, Investasi Aman dan Mudah’. Isi dan tulisan dari artikel/blog post ini diluar tanggung jawab Danareksa Investment Management

blog competition

INVESTASI BERAROMA BUSUK

Heboh kisah Ferdy Hasan terjerumus investasi bodong, karena rekomendasi seorang financial planner jadi pembicaraan paling hot di social media.  Duit Rp. 12 Milyar pun amblas, dan ini sampai jadi urusan polisi. Apalagi sebelumnya kasus dengan financial planner yang sama, heboh di surat pembaca salah satu surat kabar nasional bulan Februari 2014 lalu. Jika kita lihat ke belakang, banyak masyarakat kita yang karena mental ingin cepet kaya cari jalan tol buat hal ini, tapi akibatnya karena mungkin lebih tergiur iming-iming untung yang bakal di dapat dibanding risiko yang akan muncul maka rasionalitas seolah-olah hilang. Penawaran investasi tersebut umumnya ditawarkan dengan return nya sangat tinggi dan seolah-olah tidak ada risiko (risk free) plus iming-iming bonus dan cash back yang menggiurkan, apalagi kalau ada endorsement dari tokoh masyarakat. Kalau sudah begini something too good to be true, it’s hard to be true. Berikut adalah summary daftar perusahaan dan pelaku yang bermasalah dalam menjalankan investasinya:

  1. QSAR (Qurnia Subur Alam Raya) perkebunan, yang ini sudah lama banget dan pemiliknya – Ramly Arabi – sudah di penjara.
  2. ADD Farm, agribisnis – ternak itik, pemiliknya Ade Suhidin.
  3. Koperasi Langit Biru, agribisnis, kerugiannya sampai Rp. 6 T. Jaya Komara sang bos koperasi, jadi urusan dengan polisi.
  4. CV. Panen Mas, agribisnis: singkong, burung puyuh, dan ayam. Aria Pratomo, Dirutnya sudah di tangkap dan dipenjara polisi.
  5. PT Triguna Jaya Usaha Bahari, penyalur tenaga kerja ke luar negeri.
  6. Golden Traders Syariah Indonesia (GTIS), pemiliknya Michael Ong buron, motifnya klien diminta untuk beli emas dengan harga 30% lebih tinggi dari harga pasar dan kemudian memberikan return 13% selama 6 bulan. Kenyataannya harga emas tidak selalu naik.
  7. PT Golden Makmur Citra Sejahtera, investasi emas, skema mirip dengan GTIS, iming-iming return 2,5% – 2,75% dengan minimum investasi Rp. 180 juta.
  8. Virgin Gold Mining Corporation (VGMC), investasi pertambangan emas di Afrika dan Amerika Latin.
  9. Lautan Emas Mulia, investasi emas, skema mirip dengan GTIS.
  10. Pohon Mas, investasi emas.
  11. PT Gold Bullion Indonesia (GBI), investasi emas.
  12. PT Makira Nature, investasi emas.
  13. PT Trimas Mulia, investasi emas.
  14. PT Peresseia Mazekadwisapta Abadi (Primaz).
  15. Sarana Perdana Indoglobal, investasi komoditas dan valuta.
  16. Wahana Bersama Global, komoditas dan valuta, di Hong Kong dan Dressel dengan bunga 24%-28% per tahun untuk investasi US$ 5.000 – US$ 10.000. padahal deposito dollar paling tinggi cuma 4%, this is too good to be true.
  17. Gama Smart, komoditas dan valuta.
  18. Amanah I, forex trading, janji return 200% dalam sebulan. Wong 30% per tahun aja sudah bagus banget.
  19. Coal Trade and Investment, yang ini usaha batubara fiktif di Kalimantan. Minimum investasi US$ 500 atau sekitar Rp. 5 juta.
  20. Koperasi Titian Rizki Utama, berlokasi di Semarang, bisnis peternakan, lembaga pengembangan pendidikan dan properti.
  21. Nino de Guzman, Seattle, USA, skema Ponzi, penipuan dan pencucian uang.
  22. Steven Bingamas, Bedford, New York, USA, skema Ponzi.
  23. Bernard Madoff, USA, skema Ponzi, di penjara 150 tahun.

Dari summary di atas, apapun nama perusahannya, ada 3 kategori besar jenis investasi yang sering dijadikan peluang penipuan:

  1. Agribisnis
  2. Emas
  3. Komoditas dan valuta

so be careful!

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

CERMAT MEMILIH INVESTASI

source: aegonreligare.com

source: aegonreligare.com

Akhir-akhir ini media massa banyak memberitakan seorang ustadz terkenal yang dihentikan kegiatan pengumpulan dananya oleh otoritas yang berwenang (baca: OJK = Otoritas Jasa Keuangan). Di radio kita juga mendengar, bahwa OJK banyak memberikan himbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam berinvestasi.

Tulisan ini tidak untuk membahas si ustadz (tidak perlu disebut namanya yaa) atau OJK atau person secara tertentu, tapi untuk diri kita sendiri dalam memahami keputusan investasi yang kita pilih, agar kita cermat dan berhati-hati.

Selain tips yang pernah saya bahas dalam tulisan saya 14 Januari 2013 https://rizalplanner.wordpress.com/2013/01/14/tips-berinvestasi/ , ada beberapa hal yang juga perlu menjadi concern kita dalam berinvestasi.

  • Legalitas usaha.
    • Adakah Surat Izin Usaha dari otoritas yang berwenang? Kalau misalnya mengumpulkan dana pihak ketiga, harus punya izin dari BI seperti layaknya Bank, kalau punya usaha pengelolaan dana, tentu harus ada izin dari OJK, kalau investasi komoditas, harus ada izin dari Otoritas Bursa Berjangka. Jadi jika ingin lebih yakin, cek terlebih dahulu surat ijin usaha nya ke otoritas berwenang, dan apakah benar izin usaha tersebut valid?
  • Underlying asset.
    • Duitnya untuk beli apa sebagai dasar investasi? Duit kelolaannya itu diputar dimana? Apakah di Pasar Modal? Pasar Uang? Komoditas? Forex? Properti? Tambang? Emas? atau apa? Semuanya itu bisa dihitung return nya. Misalnya jika ada yang menjanjikan return 10% per BULAN, patut di tanyakan, duitnya di putar dimana? Apa saja portfolionya? Sudah berapa lama mengelola portfolio tersebut. Mana buktinya? Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan yang harus menjadi concern kita, agar duit kita tidak hilang.
  • Kapasitas dan Pengetahuan.
    • Apakah pemilik usaha atau pengelola dana tersebut mempunyai kapasitas yang cukup dalam mengelola dana. Apakah ia mempunyai pengetahuan yang memadai dalam mengelola investasi. Apakah ia memiliki lisence (surat ijin) yang diterbitkan oleh otoritas berwenang, seperti di pasar modal dikenal adanya lisence MI (Manajer Investasi). Karena jika salah kelola dan tidak cukup kapasitasnya dalam mengelola portfolio yang ada, maka taruhannya selain nama baik juga secara hukum bisa dituntut, karena tidak berizin.
  • Kepercayaan.
    • Apakah si pengelola dapat dipercaya? Apakah dia punya track record yang bagus dalam dunia investasi? Sebagai contoh, misalnya untuk bank sebagai agen penjual reksadana tentu sudah melakukan seleksi terhadap manajer investasi. Bank mempunyai kriteria tersendiri dalam menilai kelayakan suatu manajer investasi agar produknya layak di jual oleh bank. Karena bank juga tidak mau terkena dampak jika terjadi apa-apa dengan si penjual alias si manajer investasi meskipun sudah dijelaskan di awal bahwa bank hanya sebagai agen penjual reksadana saja.

So guys, be careful choosing your investment.

Catch me; @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

YUK .., UKUR DIRI SENDIRI

source: xylem70.blogspot.com

source: xylem70.blogspot.com

Sebagai financial planner alias perencana keuangan, hal yang sering kami tanyakan kepada klien terkait dengan investasi adalah profil risiko dari klien. Maksudnya apa? Maksudnya: setiap orang punya sikap berbeda terhadap risiko. ada yang punya toleransi tinggi kalau kemungkinan hilangnya uang gede, ada juga yang toleransinya tipis, alias gak kuat kalau harus nanggung rugi. Nyari uangnya aja susah, apalagi ini sampai hilang.

Profil risiko seperti ini penting untuk menentukan alokasi aset yang akan di investasikan. Banyak faktor yang menjadi penentu profil seseorang, seperti usia, pengalaman investasi, toleransi risiko, tujuan investasi, serta jangka waktu.

Alat ukur pertama adalah usia: semakin muda seseorang, makin panjang jangka waktu yang ia punya untuk investasi jangka panjang dan kerugian jangka pendek yang dapat di toleransi, sebaliknya makin tua seseorang, maka makin sempit jangka waktu yang ia punya untuk berinvestasi pada high risk investment seperti saham, derivatif. Ini saya temui di lapangan, ada seorang bapak yang sudah pensiun ingin menginvestasikan hampir 60% dari dana pensiunnya untuk bermain saham. I am strongly advise not to, karena usia beliau yang sudah tidak muda lagi, selain itu jantungnya juga ga kuat kalau tiba-tiba uang pensiunnya loss 20% dalam sehari. Itu namanya judi kata bang haji.

Berikutnya yang perlu di ukur adalah, apakah kita sudah berpengalaman berinvestasi di pasar keuangan? Bagaimana anda di mendeskripsikan diri anda dalam investasi dan pengetahuan di pasar keuangan? Coba pilih yang berikut ini:

  • Baru mulai investasi sejak tahun lalu
  • Mengerti dasar-dasar investasi
  • Sudah berinvestasi selama beberapa tahun dan cukup percaya diri atas investasi yang dilakukan
  • Pengetahuan saya mengenai investasi sudah di atas rata-rata.

Toleransi risiko merupakan hal berikut yang perlu di ukur, penting untuk menentukan strategi investasi yang tepat, apakah anda bisa menerima jika kehilangan nilai investasi untuk jangka waktu tertentu demi untuk mendapatkan gain di masa yang lebih panjang? Berapa besar prosentase uang yang anda alokasikan pada instrumen berisiko tinggi? Misalnya, pada tahun 1998, terjadi krisis ekonomi di Indonesia yang menyebabkan harga saham jatuh lebih dari 20% , jika anda punya saham-saham yang jatuh tersebut, apa yang anda lakukan?

  • Jual semua saham (conservative)
  • Jual sebagian dari saham yang ada (moderate)
  • Simpan dan tidak menjual apapun (growth)
  • Beli lagi (dynamic)

Selanjutnya yang perlu diukur adalah: apa tujuan investasi anda? Apakah jangka panjang seperti untuk dana pensiun kita, atau untuk kuliah anak? maka saham, reksadana saham, properti merupakan instrumen investasi yang cocok, atau jika tujuannya hanya jangka pendek, seperti untuk beli motor, DP mobil, untuk berlibur, maka reksadana pasar uang, pendapatan tetap, bisa jadi merupakan pilihan investasi yang cocok.

Yang terakhir adalah time horizon, maksudnya berapa lama anda proyeksikan untuk menarik sebagian atau keseluruhan dana investasi anda?

  • Kurang dari 1 tahun (jangka sangat pendek)
  • Kurang dari 2 tahun (jangka pendek)
  • 2 sampai 5 tahun (jangka pendek menengah)
  • 6-10 tahun (jangka menengah ke panjang)
  • > 10 tahun (jangka panjang)

Maka, dari keseluruhan faktor di atas, profil risiko anda bisa di golongkan sebagai berikut:

Profil Risiko Investment  style
Conservative investor Anda adalah investor konservatif, dengan jangka waktu investasi sangat pendek atau pendek. Lebih mengutamakan menjaga kapital tapi anda juga menyadari bahwa investasi juga dibutuhkan agar lebih besar dari inflasi. Untuk pertumbuhan, anda menerima sedikit volatilitas, dimana investasi sesekali lebih rendah dari tingkat suku bunga bank.
Moderate investor Anda memiliki jangka waktu menengah sampai panjang untuk investasi anda. Anda menginginkan investasi anda bisa mengalahkan infasi, tapi anda tidak siap mengalami fluktuasi yang signifikan terhadap hasil investasi untuk mencapai tujuan.
Balanced investor Anda adalah investor jangka panjang yang menginginkan keseimbangan portfolio investasi. Anda bersedia menerima risiko yang sudah diperhitungkan untuk mencapai pertumbuhan kapital yang lebih maksimal. Anda sudah mempertimbangkan fluktuasi yang bisa terjadi dari waktu ke waktu.
Growth investor Anda adalah investor jangka panjang yang menginginkan hasil investasi yang lebih maksimal dan bersedia menerima volatilitas yang lebih tinggi dan risiko yang moderat. Perhatian utama adalah untuk mengakumulasi aset untuk jangka menengah sampai panjang. Anda mengingkan portfolio yang seimbang tetapi dengan elemen yang lebih agresif di dalamnya.
Dynamic investor Anda termasuk investor yang menginginkan pertumbuhan yang tinggi yang bersedia berkompromi untuk mencapai potensi pengembalian jangka panjang yang lebih besar. Keamanan modal adalah hal kedua dibandingkan dengan adanya potensi akumulasi kekayaan dalam jangka panjang.

 So, which one are you?

 

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com