Cara Efektif Menghitung Nilai Uang Pertanggungan Asuransi

alhealthinsurancetip

Akhir-akhir ini banyak berita duka di sekitar kita, entah itu tokoh terkenal di negeri ini, teman kerja di kantor, tetangga, sampai keluarga dekat kita sendiri. Kalau kita lihat, bahkan ada yang masih sangat muda sudah ‘pergi’ untuk selamanya. Umur di tangan Tuhan, kita tidak tahu kapan maut akan menjemput. Ketika anda berkeluarga, dan mempunyai kewajiban menafkahi keluarga, saat itulah anda memerlukan proteksi bagi diri anda demi kepentingan keluarga. Kenapa? Karena kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dengan anda -sebagai pencari nafkah- yang menyebabkan kematian, maka orang-orang yang ditinggalkan, istri dan anak, akan mendapatkan penggantian dari pendapatan anda yang hilang.

Salah satu cara untuk melindungi penghasilan anda jika terjadi apa-apa dengan anda adalah dengan Asuransi Jiwa. Asuransi Jiwa ini memberikan proteksi terhadap risiko kematian kepada tertanggung, dalam hal ini anda sebagai pencari nafkah. Kata orang, yang namanya untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Memang kita harus menghilangkan dahulu prasangka negatif serta kekhawatiran, dan menumbuhkan harapan bagi diri kita dan keluarga terhadap Asuransi Jiwa.

Ada dua aspek kehidupan untuk setiap orang bila dilihat by product, yang pertama jika ia meninggal lebih dahulu, apa yang diwariskan untuk keluarga yang ditinggalkan, yang kedua, kalau ia panjang umur, mau hidup dengan apa? Untuk tulisan kali ini, hanya membahas poin yang pertama saja, sedangkan poin kedua, untuk orang-orang yang pensiun.

Dalam poin pertama, produk yang menjadi fokus adalah Asuransi Jiwa. Asumsikan dalam ilustrasi ini, anda adalah kepala keluarga dengan seorang istri dan satu orang anak.

Dalam menghitung kebutuhan Asuransi Jiwa, setidaknya ada 2 cara:

Yang pertama, pendekatan Human Life Value, pendekatan ini menghitung berdasarkan rata-rata pendapatan setiap bulan yang disetahunkan serta dikalikan dengan ekspektasi lamanya dana tersebut menopang hidup ahli waris sampai mampu mendapatkan incomenya sendiri. Cara perhitungannya: penghasilan rata-rata per bulan  x 12 x waktu pertanggungan. Ilustrasi sederhananya sebagai berikut, misalnya Anda, sebagai kepala keluarga (35 thn) mempunyai penghasilan Rp. 10 juta per bulan, dengan istri (30 thn) dan seorang anak (6 thn).

Maka dengan pendekatan ini, perhitungan kebutuhan asuransi Anda:

  • Rp. 10 juta x 12 x 17 = Rp. 2,04 Milyar.

Darimana datangnya angka 17 tahun? Asumsikan dalam 17 tahun, anak anda yang saat ini 6 tahun akan berusia 23 tahun dan diharapkan pada usia tersebut sudah selesai kuliah, mempunyai pekerjaan dan sudah dapat menopang dirinya sendiri.

Yang kedua, pendekatan Income Based Value, pendekatan ini berdasarkan pendapatan-rata-rata per bulan dibagi dengan faktor pertumbuhan dana (coupon atau suku bunga), karena UP tersebut harus di simpan dalam instrumen investasi.  Pilihan investasi bisa macam-macam, disarankan untuk memilih instrumen yang risikonya nyaris tidak ada, alias risk free.

Cara perhitungannya: pendapatan rata-rata perbulan / faktor pertumbuhan dana. Hasil investasi yang di dapat harus sama dengan penghasilan rata-rata perbulan atau uang yang dibutuhkan. Artinya jika terjadi klaim atas anda dan Uang Pertanggungan nya keluar, keluarga anda mendapatkan sejumlah uang yang jika di investasikan dalam instrumen tertentu, memberikan hasil yang sama dengan penghasilan rata-rata bulanan. Ilustrasinya masih sama seperti di atas, dengan asumsi penghasilan anda (Rp. 10 juta), instrumen yang dipilih adalah ORI (Obligasi Ritel Indonesia), contoh saat ini ORI 13 memberikan coupon 6,60% per tahun, nett 5,61% (setelah potong pajak) per tahun, atau 0,4675% per bulan.

Sehingga jika dihitung Uang Pertanggungan yang dibutuhkan:

  • Rp. 10 juta/ 0,4675% = Rp. 2,14 Milyar

Idealnya, keluarga ini punya UP sebesar Rp. 2,14 Milyar agar dapat menghasilkan Rp. 10 juta setiap bulannya. Pemilihan instrumen ORI pada pendekatan kedua ini, karena bisa di anggap investasi yang nyaris bebas risiko dan memberikan imbal hasil di atas suku bunga perbankan, jika kemudian kondisi perekonomian berubah dan instrumen yang bebas risiko berganti, maka pemilihan instrumen juga di sesuaikan.

Dari dua pendekatan ini, masing- masing punya kekurangan dan kelebihannya, yang pasti, biasanya, semakin besar Uang Pertanggungan semakin besar pula premi yang harus dibayarkan.

Setidaknya kita dapat mengetahui secara optimal berapa nilai UP yang wajar, sehingga ketika anda sebagai bread winner ‘pergi’ untuk selama-lamanya, anak istri tercinta terus dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik tanpa perlu bergantung pada pihak lain.

Sedikit tips, mintalah contoh polis sebelum membeli, bacalah terlebih dahulu, tanyakan apa saja yang dijamin, apa saja yang tidak, hal ini mencakup manfaat yang diterima, bagaimana dan kapan manfaat diterima dan risiko apa saja yang masuk dalam pengecualian- yang mengakibatkan UP tidak dibayar (contoh pengecualian seperti tindakan kriminal, olahraga ekstrem-mendaki gunung, menyelam). Jika polis sudah diterima, masih ada waktu untuk  mempelajarinya kembali (free look) selama 2-3 minggu dan jika ingin membatalkan dapat dilakukan pada masa tersebut. Last but not least, yang paling PENTING diketahui secara clear adalah proses klaim. Pelajari ketentuannya, apa saja persyaratan yang harus dipersiapkan, siapa yang dapat di hubungi  di perusahaan asuransi tsb, dan berapa lama perusahaan asuransi memproses klaim anda. Pastikan ahli waris anda cukup umur, minimum 21 tahun atau sudah menikah sesuai undang-undang di Indonesia, karena kalau masih anak-anak, dianggap belum cakap hukum, sehingga tidak bisa menerima waris.

Asuransi Pendidikan, tepatkah untuk sang buah hati?

asuransi pendidikan

Sebagai orang tua pasti kita ingin yang terbaik untuk pendidikan anak-anak kita, pingin sekolah nya yang terbaik, mulai dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Selain menabung dan investasi, ada orang tua yang membeli produk asuransi pendidikan untuk anak-anaknya.

Sekarang, banyak penawaran asuransi pendidikan, yang notabene sekarang adalah produk unit link, produk yang sangat canggih dan sophisticated. Anda beli produk ini, kalau anda sudah punya produk proteksi yang memadai dan juga investasi yang trengginas (eeh.., betul kan bahasa indonesianya). Mengapa? Karena produk unit link adalah produk proteksi sekaligus investasi, produk yang dikemas canggih sedemikian rupa sehingga produk ini bisa memberikan perlindungan asuransi sekaligus memberikan return atas investasi yang dilakukan.

Namun, karena canggihnya produk ini, banyak dari nasabah yang kurang paham dan kurang mengerti bagaimana mekanisme nya, berikut hal-hal penting yang wajib anda ketahui mengenai asuransi pendidikan:

  1. Nilai tunai berkurang dalam periode awal, kalau misalnya di awal anda membayar premi Rp. X juta, maka dalam beberapa tahun pertama, nilai tunai anda akan berkurang. Ini namanya biaya akuisisi. Ilustrasinya begini, misalnya uang premi yang disetor Rp. 100 juta, ternyata dalam laporan tahunan sudah terpotong Rp. 10 juta, otomatis nilai tunai nya tersisa Rp. 90 juta. Nilai Rp. 10 juta tersebut adalah biaya akuisisi, artinya kurang lebih biaya yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi untuk komisi agen, biaya marketing, yang diambil dari setoran premi nasabah. Biaya ini akan terus ada sampai periode tertentu. Dan bukan tidak mungkin laporan berikutnya nominal uang anda akan berkurang lagi.
  1. Waiver premium, kurang lebih artinya, premi akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, bila terjadi ketidakmampuan dari pihak yang membayarkan premi, sampai si anak mencapai usia sekolah/kuliah. Logikanya, buat apa dilanjutin bayar premi sampai anak mencapai usia sekolah/kuliah? Wong dibutuhin saat itu juga, saat si bapak udah ga ada lagi. Siapa yang akan bayarin sekolah si anak sekarang sampai usia sekolah/kuliah nanti? Emang nya si anak udah bisa otomatis cari duit sendiri saat si bapak ga ada sampai mencapai usia sekolah/kuliah nanti? Yang di asuransikan seharusnya adalah yang membayarkan premi, biasanya sih breadwinner alias pencari nafkah alias bapaknya BUKAN si anak sebagai penerima manfaat asuransi. Kalau ada apa-apa dengan bapaknya, maka otomatis anak akan ter-cover, bukan sebaliknya, kalau ada apa-apa dengan si anak, maka Bapaknya yang mendapatkan manfaatnya, ini kan salah kaprah.
  1. Asuransi sebagai proteksi, yang kita cari adalah untuk proteksi, sedangkan asuransi pendidikan unit link menawarkan proteksi sekaligus investasi, yang berakibat pada performance investasi dari nilai unit link itu sendiri yang tidak setinggi investasi murni. Ilustrasinya begini, misalnya Asuransi Unit Link dengan underlying asset yang sama (portfolio asset dasar yang sama) untuk Reksadana investasi murni, maka akan terlihat perbedaan yang nyata, jika pada reksadana bisa memberikan return hingga 12% p.a. (misalnya), maka return investasi di unit link biasanya lebih rendah dari 12% p.a.
  1. Perbedaan harga beli dan jual di asuransi unit link (di perusahaan asuransi tertentu), kalau diperhatikan di surat kabar, terdapat 2 kolom, jual dan beli, maka selisihnya kurang lebih sebesar 5 %. Ini adalah margin bagi perusahaan asuransi, sedangkan pada reksadana harga NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang dipublikasikan hanya closing price kolom saja, artinya harga jual dan beli unit Reksadana tersebut pada harga yang sama.

Kesimpulannya, dari 4 poin di atas, menurut saya, bisa dinilai bahwa asuransi pendidikan unit link kurang tepat sebagai proteksi sekaligus investasi untuk buah hati anda.

Oleh karena itu tetapkan tujuan dan kebutuhan anda, cermatlah dalam membeli asuransi, lebih baik bawel kepada agen asuransi daripada menyesal kemudian. Kalau masih kurang jelas, tanyakan pada financial planner anda.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

New Coal Power Plant vs Health

source: wikipedia.org & smart-labex.fr

source: wikipedia.org & smart-labex.fr

human health

In recent news topic, the new minister RR challenge VP JK to debate on the issue of build an additional 35 Gig watts of new power plants, while 22 Gig watts of which would come from coal power plants.

Based on recent report on the research “The Human Cost of Coal” from Harvard University and Greenpeace Southeast Asia, reveals that Indonesia’s coal-fired power plants cause an estimated 7,100 premature deaths every year. The number would increase to 28,000 per year if Jokowi – JK government goes ahead with an ambitious rollout of more than one hundred new coal-fired power plants. According to the report, the cause of this would be the emissions from coal-fired power plants form particulate matter and ozone would endanger to human health. More common that would likely happen in community are heart attacks, lung cancer and other cardiovascular and respiratory diseases that would likely to cut human’s life. The focus would be the quality of air and health.

By this plan to come, I urge the importance of life and health insurance to protect you and your beloved family. Not just having this issue now, even though there is no such issue like this, you would need health insurance to cover you. Of course we wouldn’t expect to be ill and hospitalized, but one never knew. Insurance protect us from such unexpected and accidentally sickness which might happened to us in the future.

As a family, you would need to buy each of your family members a health insurance and the bread-winner also a life insurance. No need to buy your kids a life insurance, because we do not expect our kids to ‘go’ first before their parents, right? Well, the point of buying life insurance is to make sure our kids are covered enough if we, as the bread-winner, gone. Not vice-versa.

This issue of having new coal power plant, quality of air, human health are just point out lately, but the main point is to take care our family by having sufficient protection with insurance.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

CARA PRAKTIS MENGHITUNG KEBUTUHAN UANG PERTANGGUNGAN ASURANSI ANDA

insurance

Salah satu cara untuk melindungi penghasilan anda jika terjadi apa-apa dengan anda adalah dengan asuransi jiwa. Asuransi jiwa ini memberikan proteksi terhadap risiko kepada tertanggung, dalam hal ini anda sebagai breadwinner atau pencari nafkah. Kata orang yang namanya untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Memang kita harus menghilangkan dahulu prasangka negatif, kekhawatiran dan menumbuhkan harapan bagi diri kita dan keluarga terhadap asuransi jiwa.

Ada dua aspek kehidupan untuk setiap orang bila dilihat by product, yang pertama jika ia meninggal lebih dahulu, apa yang diwariskan untuk keluarga yang ditinggalkan, yang kedua, kalau ia panjang umur, mau hidup dengan apa? Untuk tulisan ini, hanya membahas yang poin pertama saja, sedangkan poin kedua, untuk orang-orang yang pensiun, jika dikaitkan dengan produk, inilah namanya produk anuitas.

Dalam poin pertama, produk yang menjadi fokus adalah asuransi jiwa. Dalam menghitung kebutuhan asuransi jiwa, setidaknya ada 3 cara:

Yang pertama, pendekatan Human Life Value, cara perhitungannya: penghasilan per bulan  x 12 x waktu pertanggungan. Semakin tinggi uang pertanggungan (sering disingkat UP), maka makin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Ilustrasi sederhananya, misalnya Mr. X (35 thn) mempunyai penghasilan 10 juta per tahun, mempunyai seorang istri yang ibu RT dan seorang anak 6 tahun. Maka dengan pendekatan ini, perhitungan kebutuhan asuransi Mr.X:

èRp. 10 juta x 12 bulan x 19 tahun = Rp. 2,28 Milyar.

Asumsi 19 tahun, karena anak akan berusia 25 tahun, dan diharapkan sudah selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri.

Yang kedua, pendekatan Income Based Value, cara perhitungannya: uang yang dibutuhkan / suku bunga. Hasil bunga yang di dapat harus sama dengan penghasilan bulanan atau uang yang dibutuhkan. Maksudnya keluarga anda mendapatkan sejumlah uang yang jika di investasikan dalam instrumen tertentu, memberikan hasil yang sama dengan penghasilan bulanan. Ilutrasinya masih sama dengan asumsi penghasilan Mr.X di atas (Rp. 10 juta), instrumen yang dipilih adalah ORI (Obligasi Republik Indonesia) dengan tingkat suku bunga ORI 8.50% per tahun, nett 6,8% per tahun setelah dipotong pajak, atau 0.57% per bulan. Mengapa ORI? Karena instrumen tersebut diasumsikan aman dan memberikan yield (imbal hasil) di atas bunga perbankan. Sehingga jika dihitung Uang Pertanggungan yang dibutuhkan:

èRp. 10 juta/ 0.57% = Rp. 1,76 Milyar

Idealnya, keluarga ini punya UP sebesar Rp. 1,76M agar dapat menghasilkan Rp. 10 juta setiap bulannya.

Yang ketiga, pendekatan Survival Based Income, cara perhitungannya mirip dengan pendekatan human life value dengan menambahkan perhitungan utang dan berapa sisa penghasilan yang harus di cover, sampai orang yang ditinggalkan survive. Dengan ilustrasi penghasilan Mr.X di atas, asumsi istri (Mrs. X, 30th) pernah bekerja sebelumnya dengan gaji Rp.5 juta per bulan. Jika terjadi apa-apa dengan Mr.X, maka Mrs X diharapkan akan dapat kembali bekerja dengan gaji sebelumnya (Rp. 5 juta), selain itu misalkan terdapat cicilan KPR Rp. 2 juta per bulan, dan total pengeluaran rumah tangga per bulan Rp. 9 juta. maka dapat kita hitung, seandainya Mr.X meninggal, pengeluaran menjadi hanya Rp. 7 juta (Rp. 9 juta – Rp. 2 juta). Cicilan KPR sebesar Rp.2 juta dapat dikeluarkan karena umumnya KPR selalu di cover asuransi jiwa, sehingga otomatis sisa pinjaman akan ditutup oleh asuransi jika Mr.X meninggal. Selain itu diasumsikan Mrs X kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan Rp. 5 juta per bulan, sehingga kekurangan dana per bulan hanya Rp. 2 juta (Rp. 7 juta – Rp. 5 juta). Selama 19 tahun, sampai anak selesai kuliah dan siap memenuhi kebutuhannya sendiri, maka kebutuhan kekurangan dana tersebut:

èRp. 2 juta x 12 bulan x 19 tahun = Rp. 456 juta.

Dengan pendekatan ini, maka nilai uang pertanggungan yang dibutuhkan dari asuransi untuk menutup kekurangan tersebut Rp. 456 juta.

Dari tiga pendekatan ini, masing-masing punya kekurangan dan kelebihannya, yang pasti semakin besar Uang Pertanggungan semakin besar pula premi yang harus dibayarkan.

So, sudahkah anda menghitung kebutuhan proteksi anda?

 

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.planner@gmail.com

KASUS SI DUL

pic source: news.liputan6.com

pic source: news.liputan6.com

Awal minggu ini media heboh dengan berita kecelakaan, yang bikin heboh karena yang di duga menabrak adalah si Dul, anak bungsu Ahmad Dhani – salah seorang selebritis Indonesia. Si Dul yang baru berumur 13 tahun ini dengan sedan Lancer nya pada hari Minggu 8 September 2013 dini hari, masuk jalur berlawanan di Jagorawi, menghantam Grand Max dan Avanza, yang akhirnya menewaskan 6 orang dan 9 orang luka-luka.

Tulisan ini tidak untuk membahas si Dul, Ahmad Dhani atau perceraiannya dengan Maia, tapi dari sisi perlindungan asuransi kendaraan bermotor (motor vehicle insurance). Anda sebagai pemilik mobil melindungi mobil anda dari risiko-risiko yang mungkin terjadi dengan membeli asuransi kendaraan bermotor. Bila anda baca klausula dalam Polis Asuransi Kendaraan Bermotor, maka ada klausula untuk Risiko Yang Dijamin, bahwa perusahaan asuransi akan menanggung kerugian pada pihak ketiga, meliputi:

  • Kerusakan atas harta benda
  • cedera badan atau kematian

Bersamaan dalam polis itu, juga ada klasula untuk Risiko Yang Tidak Dijamin, artinya perusahaan asuransi tidak mau memberikan ganti rugi, bila terjadi kondisi-kondisi tertentu, umumnya ada beberapa kondisi, salah satunya:

  • kendaraan bermotor tersebut dikemudikan oleh seseorang yang pada saat terjadinya kecelakaan tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang sah atau yang oleh seseorang yang berada di bawah pengaruh minuman keras atau sesuatu bahan lain yang memabukkan.

Dalam kasus si Dul ini, perusahaan asuransi tidak akan mau mengganti kerusakan mobil Lancer atau cedera badannya si Dul, apalagi sampai menanggung mobil Grand Max dan Avanza yang rusak plus menanggung pula biaya kematian 6 orang maupun 9 orang yang luka-luka tersebut, dikarenakan si pengemudi tidak punya SIM yang sah.

Lesson learnt dari kasus ini, untuk kepentingan anda dan keluarga anda, periksalah kembali polis asuransi kendaraan bermotor anda, apa saja klasula Risiko Yang Dijamin dan Risiko Yang Tidak Dijamin, perbaharui selalu identitas anda seperti SIM supaya tidak expired, atau ingatkan supir anda untuk itu. Karena jangan sampai karena hal sepele, anda kehilangan hak anda untuk klaim, padahal kewajiban bayar premi sudah anda laksanakan.

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

Michael Jackson’s story

 

photo source: telegraph.co.uk

photo source: telegraph.co.uk

Siapa yang tidak tahu Michael Jackson (MJ)? Seorang penyanyi, penulis lagu, dancer, koreografer, produser musik, pebisnis dan philantrophist. Lahir pada 29 Agustus 1958, tercatat sebagai entertainer paling sukses menurut Guinness World Records.

The King of Pop yang sudah meninggal 4 tahun yang lalu, 25 Juni 2009. Sang Raja Pop meninggalkan 3 orang anak: Prince Michael, 16 tahun, Paris, 15 tahun dan Prince Michael II, 11 tahun.

Alkisah sang Raja Pop sebelumnya meninggal mempunyai asuransi jiwa yang preminya selalu dibayarkan oleh asistennya. Tapi beberapa bulan sebelum kematian MJ, asistennya di duga menggelapkan uang premi tersebut, sehingga kewajiban pembayaran premi asuransinya yang terakhir lapse. Kejadian ini berakibat fatal bagi anak-anak MJ sebagai penerima manfaat dari asuransi tersebut, sehingga mereka yang seharusnya menerima US$ 22,5 juta, akhirnya hanya menerima US$ 2,5 juta. Kalau dengan kurs sekarang Rp. 10.000, kurang lebih hanya terima Rp. 25 milyar dibandingkan seharusnya Rp. 225 milyar.

Premi asuransi merupakan kewajiban yang harus di penuhi oleh pemegang polis asuransi sampai waktu tertentu, apabila lapse (terlewatkan) masa pembayarannya, maka dapat berakibat berakhirnya polis asuransi  (terminate). Dalam polis asuransi, ada grace period (tenggang waktu) untuk pembayaran premi asuransi, apabila pembayaran dilakukan masih dalam tenggang waktu tersebut, maka polis tetap berlaku. Misalnya tanggal  payment due 14 Juli 2013, grace period nya 30 hari, artinya masa pembayaran premi masih bisa di tolerir sampai 14 Agustus 2013, bila pembayaran dilakukan sebelum tanggal 14 Agustus 2013 maka polis masih tetap berlaku, tapi bila dilakukan setelah tanggal 14 Agustus 2013, maka polis berakhir. Dalam kasus MJ di atas, pembayaran tidak dilakukan sampai batas grace period tersebut. Sehingga anak-anak nya nangis bombay sampai nangis darah, yang mestinya dapat puluhan juta dollar dari kematian bapaknya, karena kelakuan si asisten, maka hilanglah manfaat total asuransinya.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas, meskipun anda seorang selebriti, sangat super sibuk sekali di kantor atau bisnis anda, tapi bila untuk kepentingan keluarga anda, anak-anak tercinta anda yang menjadi beneficiary dari asuransi jiwa anda, bayarlah SENDIRI premi asuransi anda tepat waktu, sehingga kejadian keluarga MJ tidak menimpa keluarga anda.

 

Catch me: @rizalplanner

Email me: rizal.planner@gmail.com

ACCIDENT DOES HAPPEN

pitchero.com

pitchero.com

Pagi ini kita di kejutkan berita duka cita, salah satu ustadz terkenal meninggal dunia karena kecelakaan motor gede, berita-berita di sosial media menyampaikan bahwa kecelakaan tersebut kecelakaan tunggal, dini hari Jumat 26 April 2013. Mungkin habis memberikan ceramah hingga larut malam, kita tidak tahu. Tulisan kali ini tidak membahas mengenai si ustadz tapi mengenai pentingnya asuransi kecelakaan diri sebagai bagian dari perencanaan keuangan.

Kecelakaan bisa menimpa pada siapa saja, termasuk diri kita sendiri. Contoh lain kecelakaan diri adalah  karena terinjak kulit pisang hingga menyebabkan jatuh, atau karena memanjat tangga untuk membetulkan langit-langit, lampu atau apapun itu yang menyebabkan kita jatuh. Semua itu masuk dalam kategori kecelakaan diri. Di sinilah pentingnya kita mempunyai asuransi kecelakaan diri (Personal Accident). Karena jika terjadi apa-apa dengan kita, maka ada asuransi yang memberikan proteksi pada kita, apakah itu biaya medis yang harus dikeluarkan akibat kecelakaan sampai kehilangan jiwa seperti contoh kasus ustadz di atas.

Kecelakaan menurut definisi Polis Standar Asuransi Kecelakaan Diri Indonesia adalah suatu kejadian atau peristiwa yang mengandung unsur kekerasan baik yang bersifat fisik maupun kimia yang datangnya tiba-tiba, tidak dikehendaki atau direncanakan, termasuk keracunan, mati lemas atau tenggelam.

Asumsikan berita-berita tersebut benar, maka kecelakaan motor tersebut di perkirakan tidak direncanakan dan mengandung unsur kekerasan fisik karena menabrak pohon palem, jika masuk dalam definisi Polis Standar maka pihak asuransi akan memberikan uang pertanggungannya pada si ahli warisnya, misalnya dalam kasus ini istrinya si ustadz. Tapi jika ternyata ditemukan bahwa kecelakaan tersebut terdapat unsur kesengajaan atau direncanakan, maka pihak asuransi berhak untuk menolak klaim. Pihak asuransi bisa melakukan investigasi untuk kecelakaan, apalagi jika uang pertanggungannya guede.

Hal lain yang perlu di perhatikan dalam membeli asuransi kecelakaan diri adalah luasnya jaminan, maksudnya coveragenya apakah termasuk bila mengemudi sepeda motor, karena jika termasuk maka akan di cover si perusahaan asuransi, tapi jika tidak, maka percuma saja.

Ada juga pengecualian tambahan dalam polis, seperti teroris dan huru hara, maksudnya, jika kecelakaan diri terjadi karena unsur terorisme dan atau huru hara dimana kita terlibat di dalamnya, maka pihak asuransi akan menolak klaim kita.

So guys, plan yourself better and get protected.

Catch me: @rizalplanner

Email: rizal.planner@gmail.com