PENIPUAN INVESTASI

bitagtheoriginal

Heboh kasus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group di Depok awal tahun 2017 ini menambah panjang daftar investasi bodong yang ada di Indonesia. Alkisah KSP Pandawa Mandiri Group melakukan penghimpunan dana masyarakat dengan tawaran bunga yang sangat tinggi hingga 10% per bulan kepada investor. Sistemnya multilevel, seorang leader merekrut downline 4 (empat) orang dan 4 (empat) orang ini kemudian melakukan perekrutan lagi dan seterusnya. Selain itu mereka juga menyalurkan pinjaman kepada nasabah seperti kepada pedagang dengan bunga 15% per 3 bulan. Kasus ini mencuat setelah ada laporan dari masyarakat kepada pihak berwajib. Daan pihak OJK juga sebelumnya pada akhir tahun lalu telah turun tangan menghentikan kegiatan penghimpunan dana karena tidak sesuai dengan ijin yang di dapat.

Kalau kita rujuk ke belakang, sepertinya daftar penipuan investasi sudah sangat panjang seperti QSAR (Qurnia Subur Alam Raya) investasi di perkebunan, ADD Farm – ternak itik, Koperasi Langit Biru – agribisnis, Golden Traders Syariah Indonesia (GTIS) – beli emas 30% lebih tinggi dari harga pasar, Raihan Jewelry (RJ) – iming-iming investasi emas; yang terakhir muncul sebagai headline di harian Kontan (Rabu, 27 Februari 2012), dan masih banyak lagi listnya. Semua kasus di atas akhirnya harus berurusan dengan Polisi.

Banyak masyarakat kita yang karena mental ingin cepet kaya cari jalan tol buat hal ini, alih-alih untung malah jadi buntung, karena tergiur iming-iming untung yang bakal di dapat dibanding risiko yang akan muncul maka rasionalitas seolah-olah hilang. Penawaran investasi tersebut umumnya ditawarkan dengan bunga atau return (imbal hasil) nya sangat tinggi dan seolah-olah tidak ada risiko (risk free) plus iming-iming bonus dan cash back yang menggiurkan, apalagi kalau ada endorsement dari tokoh masyarakat! Kalau sudah begini something too good to be true, it’s hard to be true.

Tulisan ini untuk diri kita sendiri dalam memahami keputusan investasi yang kita pilih, agar kita cermat dan berhati-hati dalam berinvestasi, jangan tergiur dengan iming-iming bunga tinggi atau bagi hasil yang tinggi yang jauh melebihi kondisi pasar. Contohnya tawaran KSP Pandawa Mandiri yang menjanjikan memberikan bunga 10% per bulan, sementara kita tahu kondisi di perbankan bunga deposito bank saat ini 5%-6% per tahun. Artinya Pandawa menjanjikan memberikan bunga 120% per tahun, atau 20 – 24 kali dari bunga perbankan, angka yang sangat fantastis kan? Dari sini saja seharusnya sudah muncul pertanyaan, benar apa tidak?

Yang kedua yang perlu menjadi concern kita, adalah legalitas dari entitas tersebut. Apakah entitas tersebut mempunyai ijin dari otoritas yang berwenang? Dalam kasus KSP Pandawa, kegiatan menghimpun dana pihak ketiga tidak mendapat ijin dari OJK, karena di Indonesia yang berhak mengumpulkan dana pihak ketiga hanya Bank, dan KSP Pandawa tidak mendapat ijin untuk hal itu. Begitu juga untuk  perdagangan komoditas seperti emas, harus ada izin dari otoritas. Jika ingin lebih yakin, cek terlebih dahulu surat ijin usahanya ke otoritas berwenang, dan apakah benar izin usaha tersebut valid?

Yang ketiga, apakah underlying asset nya? Maksudnya dasar investasi nya pada aset apa saja?  Uang yang disetorkan diinvestasikan dimana? Kita perlu waspada dan teliti menanyakan hal ini, karena jika di investasikan di pasar modal, pasar uang, perdagangan komoditas semuanya bisa terlihat secara transparan dari laporan pasar yang ada dan kita sebagai calon investor bisa menilai imbal hasil yang wajar. Dalam kasus KSP Pandawa yang menjanjikan imbal hasil 10% per bulan, sangat patut ditanyakan, uangnya di investasikan pada instrumen apa? Apa saja portfolionya? Sudah berapa lama mengelola portfolio tersebut. Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus menjadi concern kita, agar uang kita tidak hilang.

Ke empat, knowledge dan capability, Apakah pemilik usaha atau pengelola dana tersebut mempunyai kapasitas yang memadai dalam mengelola dana. Apakah ia mempunyai pengetahuan yang cukup dalam mengelola investasi. Apakah ia memiliki lisence (surat ijin) yang diterbitkan oleh otoritas berwenang. Seperti di pasar modal dikenal adanya lisence MI (Manajer Investasi). Karena salah kelola dan tidak cukup kapasitasnya dalam mengelola portfolio yang ada, maka taruhannya selain nama baik juga secara hukum bisa dituntut, karena tidak berizin.

Secara nature, bahwa masih banyaknya orang yang tertipu investasi semacam ini karena faktor serakah (greed), ingin mendapatkan untung besar secara instan tapi tidak memperhitungkan resikonya.

Sepanjang tahun 2013-2016 kemarin, OJK menerima laporan dan pertanyaan masyarakat mengenai 484 entitas yang dicurigai melakukan investasi bodong.

Oleh karena itu marilah kita cermat dalam berinvestasi, jangan sampai penipuan investasi yang telah banyak makan korban menimpa diri anda. Waspadalah!

Catch me:@rizalplanner

email me: rizal.plannerindo@gmail.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s