FUN FUND

source: sports-kings.com

source: sports-kings.com

Masih ingat Mike Tyson? si leher beton, sang juara tinju kelas berat dunia yang royal, pada waktu itu dibayar jutaan dollar dan sempat mempunyai pendapatan sampai Rp 2,6 T sepanjang karirnya, tapi kemudian dinyatakan bangkrut tahun 2003 oleh pengadilan atas permintaan sendiri dan sempat jadi tunawisma. Kenapa bangkrut? Salah satu penyebabnya adalah karena ketidakmampuan mengatur keuangan pribadi. Terlalu boros untuk hal-hal yang fun dan bersifat jangka sangat pendek, tanpa melihat tujuan jangka panjang.

Bercermin dari cerita di atas, kita sebagai manusia juga tetap butuh melakukan hal-hal yang fun, do fun things, seperti ketemu dengan teman-teman, gathering, gaul, hang out, going out, having fun di amusement park, main game atau apapun itu namanya, supaya gak stress dan bosan dengan rutinitas yang ada. Tapi semua itu tentu butuh biaya, dari mana biaya itu?

Selain tujuan-tujuan keuangan yang kita punyai, seperti untuk investasi, asuransi, pensiun dan tujuan serius lainnya, kita juga perlu menyisihkan sebagian untuk dana gaul alias dana hura-hura alias fun fund. Dana ini besarnya kurang lebih 10% – 11% dari dari pendapatan bulanan. Jadi kalau misalnya pendapatan kita per bulan Rp. 30 juta, maka dana gaul per bulan Rp. 3 – 3,3 juta. Besar atau kecil itu relatif, tergantung gaya hidup kita.

Yang perlu jadi perhatian adalah disiplin anggaran kita dalam mengelola keuangan pribadi, artinya jangan lebih besar pasak dari tiang, misalnya karena kita lebih mengejar kesenangan sekarang semua, maka kita lebih banyak menghabiskan dana untuk yang fun fun saja yang enaknya bersifat jangka sangat pendek, sementara tujuan kita jangka panjang lainnya tidak tercapai – seperti kasusnya Tyson. Juga sebaliknya, karena alokasi dana kita habis untuk tujuan-tujuan serius tersebut, maka kita tidak punya budget untuk gaul alias hura-hura. Life will be boring.

So let’s have fun!
Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com

Bunga KPR: pilih yang mana, fix atau floating?

man move to lower interest

Kalau kita sudah ketemu properti yang akan kita beli, baik rumah idaman, apartemen dambaan, atau ruko impian kita, maka salah satu cara pembayarannya adalah dengan pinjaman dari bank.

Saat ini banyak bank yang menawarkan KPR/KPA dengan bunga fix (tetap) dan banyak juga yang menawarkan bunga floating (mengambang). Kalau kita harus memilih, pilihlah bunga fix dengan tenor (jangka waktu) paling lama. Misalnya ada penawaran KPR:  9,75% untuk 4 tahun, 8,88% untuk 3 tahun, 7,11% untuk 2 tahun, maka pilihlah yang pertama: 9,75% untuk 4 tahun. Mengapa? Karena dengan memilih bunga fix selama 4 tahun pertama, artinya cicilan yang kita bayarkan ke bank akan tetap selama 4 tahun. Dan ini penting untuk menjaga cash flow kita dan rencana-rencana keuangan lainnya. Tapi bila kita pilih bunga floating (mengambang) artinya cicilan kita bisa berubah-ubah setiap saat/periode, misalnya, bunga 12 bulan pertama 12%, maka belum tentu untuk bunga 12 bulan berikutnya masih 12%, bisa jadi malah naik jadi 13%, yang sering disebut sebagai penyesuaian bunga pinjaman yang karena berbagai faktor biasanya naik, dan kalau pun turun karena patokan suku bunga seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) turun, maka turunnya bunga KPR bisa lamaa banget dan mungkin saja stabil di angka awal.

Contoh sederhana dari cerita di atas misalnya kalau kita beli rumah dengan pinjaman 10 tahun dari bank sebesar  Rp. 500 juta, bunga KPR  fix 9,75% selama 4 tahun, maka cicilan kita per bulan Rp. 6,5 juta, jumlah ini tetap selama 4 tahun pertama, sedangkan untuk sisa 6 tahunnya akan kena bunga floating yang umumnya lebih tinggi dari bunga fix,  tapi bila sejak awal  kita pilih bunga floating 12%, maka cicilan kita pada awal periode sudah sebesar Rp. 7,2 juta. Untuk awalnya saja ada selisih Rp. 700 ribu perak yang merupakan  extra tambahan 2,25% bunga yang mesti kita bayarkan ke bank sejak awal. Tentu saja ini merugikan bagi kita sebagai konsumen. Kalau kita bisa bayar bunga lebih murah kenapa harus bayar mahal?

Memang setelah masa akhir bunga fix 4 tahun, kita akan dikenakan bunga floating oleh bank yang umumnya lebih tinggi dari bunga fix. Karena disinilah bank mendapatkan margin alias untung nya.

Nah kalau sudah habis masa bunga fix, lihat-lihat saja di market, apakah ada bank lain yang menawarkan bunga fix, kalau ada, pindahkan saja lagi.

Catch me: @rizalplanner

Contact me: rizal.planner@gmail.com