MAYDAY MAYDAY…

source:tomlohre.com

source:tomlohre.com

Tulisan ini bukan untuk memperingati hari buruh 1 Mei, tapi lebih sebagai ungkapan darurat seperti halnya seorang pilot pesawat tempur yang ditembak jatuh lawannya “mayday mayday I am going down” kata si pilot. Ceritanya begini, salah seorang sahabat saya resign dari pekerjaannya karena satu dan lain hal, dan sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan yang cocok, dan usaha cari kerja sana sini sudah berjalan lebih dari 6 bulan, tapi belum gol juga. Sahabat saya yang lain juga memutuskan untuk usaha sendiri dan meninggalkan pekerjaannya yang sudah mapan. Setelah setahun lebih usaha sendirinya belum juga berkembang, malah harus menjual aset nya dan kembali harus mencari pekerjaan yang memberikan penghasilan tetap. Karena ternyata hasil wirausahanya belum memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Sebelumnya saya pernah menulis di blog saya, bahwa betapa pentingnya dana darurat. Dana darurat ini adalah dana yang kita siapkan apabila terjadi kejadian darurat contohnya seperti kejadian pada dua sahabat saya di atas. Bahwa resign dari kantor itu adalah pilihan mereka, tapi kewajiban mereka sebagai pilot untuk memberi makan dan pendidikan pada keluarga itu adalah sesuatu yang ga bisa di tawar.  Emangnya mau di kasih indomie terus anak-anak?

Sebagai financial planner alias perencana keuangan, merencanakan perubahan stage dalam kehidupan memerlukan satu perencanaan sendiri, bahwa kita mau menjadi entrepreneur alias wirausaha merupakan stage baru dari sebelumnya karyawan menjadi bos diri sendiri. Tapi di balik itu, kita juga harus mengantisipasi hal-hal yang mungkin kurang berjalan sesuai rencana kita. Contohnya mencari pekerjaan baru, cari customer baru dan memperluas pasar usaha kita yang ternyata tidak mudah, sementara kita tetap harus mengeluarkan uang untuk makan sehari-hari, biaya sekolah anak-anak, transportasi, listrik, air dan kebutuhan hidup lainnya. Bahwa menjadi bos sendiri emang enak, tapi dalam case ini, hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Tulisan ini tidak akan membahas mengenai motivasi menjadi wirausaha atau pilihan keluar dari comfort zone tersebut, tapi lebih pada sisi perencanaan keuangan keluarga, yaitu pentingnya dana darurat. Bila kita tidak punya dana darurat, bisa jadi kita malah menjual aset-aset kita untuk membiayai kebutuhan hidup kita. Artinya aset yang tadinya kita kumpulkan susah payah akan hilang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi kalau sudah BU alias butuh uang, berapapun aset di tawar, OK saja, asal cepat jadi fulus. Ini sudah tanda-tanda kebangkrutan, “Mayday mayday …..

Oleh karena itu, kita perlu menyisihkan pengeluarkan kita secara rutin untuk membentuk dana darurat ini, pilih instrumen yang sifatnya likuid, sehingga mudah di cairkan sewaktu-waktu. Dan kebutuhan dana darurat ini berkisar 9-12 kali pengeluaran bulanan. Diharapkan dalam jangka waktu maksimal 12 bulan kita bisa kembali “sehat”. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi kita bisa merencanakan savings kita untuk mengantisipasi hal-hal darurat tersebut.

So guys, start building your emergency fund soonest.

Catch me: @rizalplanner

Contact: rizal.planner@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s